Kisah Dzulqarnain, Teladan Pemimpin Kuat, Adil dan Rendah Hati

Religi 12 Jul 2026 11:15 • 4 min read • 162 views • By admin

Share berita ini

Kisah Dzulqarnain, Teladan Pemimpin Kuat, Adil dan Rendah Hati
Oleh: Assoc. Prof. Dr. H. Usman Jakfar, Lc., M.A.

Duta Nusantara News,Medan -Kisah Raja Dzulqarnain dalam QS. Al-Kahfi ayat 83–98 menyimpan pelajaran besar tentang kekuasaan dan kepemimpinan. Ia bukan hanya dikenal sebagai penguasa yang kuat, tetapi juga sebagai sosok yang menggunakan kekuasaan, ilmu, dan kemampuannya untuk menegakkan keadilan serta melindungi masyarakat.

 

Dzulqarnain merupakan seorang raja yang diberi Allah SWT kekuasaan di muka bumi dan berbagai jalan untuk mencapai tujuannya. Namun, kekuasaan itu tidak digunakan untuk kesombongan atau kepentingan pribadi.

 

Kisahnya menjadi pengingat bagi siapa pun yang memiliki jabatan, harta, ilmu, pengaruh, bahkan kepemimpinan dalam lingkup terkecil sekalipun: punya kuasa berarti punya tanggung jawab.

 

Kekuasaan adalah Ujian

 

Allah SWT memberikan Dzulqarnain kedudukan dan kekuasaan di muka bumi. Namun, kekuasaan tersebut bukanlah tujuan akhir, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan.

 

Dzulqarnain menggunakan kekuasaannya untuk menegakkan keadilan. Ia bersikap tegas terhadap orang yang berbuat zalim dan memberikan perlakuan baik kepada mereka yang beriman serta beramal saleh.

 

Dari sini terdapat pelajaran penting bahwa jabatan, kekayaan, dan pengaruh merupakan ujian. Semuanya dapat digunakan untuk menghadirkan kebaikan, tetapi juga dapat menjadi jalan menuju kezaliman apabila disalahgunakan.

 

Pemimpin yang baik tidak boleh tebang pilih. Keadilan harus berdiri di atas kebenaran, bukan kepentingan pribadi, kelompok, atau hawa nafsu.

 

Ilmu dan Kekuatan Harus Menjadi Solusi

 

Dalam perjalanannya, Dzulqarnain bertemu dengan suatu kaum yang meminta perlindungan dari ancaman Ya’juj dan Ma’juj. Mereka menawarkan imbalan agar Dzulqarnain membangun penghalang yang dapat melindungi mereka.

 

Dzulqarnain tidak mengabaikan keluhan masyarakat tersebut. Ia hadir membawa solusi.

 

Inilah salah satu pelajaran besar dari kisah Dzulqarnain. Orang yang memiliki ilmu, kemampuan, jabatan, kekayaan, atau pengaruh seharusnya menggunakan kelebihan tersebut untuk membantu mereka yang membutuhkan.

 

Kekuatan sejati bukan hanya kemampuan untuk menguasai, tetapi juga keberanian untuk melindungi.

 

Menolak Imbalan, Mengajak Gotong Royong

 

Ketika masyarakat menawarkan imbalan, Dzulqarnain tidak menjadikan kesulitan mereka sebagai kesempatan untuk memperkaya diri.

 

Ia mengatakan bahwa apa yang telah diberikan Allah kepadanya jauh lebih baik. Namun, Dzulqarnain tetap meminta masyarakat membantu dengan tenaga dan kekuatan mereka.

 

Sikap tersebut memberikan pelajaran tentang pentingnya gotong royong dalam pembangunan.

 

Pemimpin yang amanah tidak memanfaatkan proyek untuk kepentingan pribadi. Namun, masyarakat juga tidak hanya menjadi penonton. Semua pihak diajak berpartisipasi untuk menghadirkan kemaslahatan bersama.

 

Teknologi untuk Kemaslahatan Manusia

 

Dzulqarnain kemudian membangun penghalang menggunakan besi dan tembaga yang dilelehkan. Pada zamannya, hal tersebut menunjukkan kemampuan teknis dan pemanfaatan pengetahuan untuk menyelesaikan persoalan masyarakat.

 

Pesannya tetap relevan hingga era modern.

 

Ilmu pengetahuan dan teknologi seharusnya tidak hanya menjadi simbol kemajuan atau alat untuk menunjukkan kehebatan. Teknologi harus digunakan untuk menyelesaikan masalah, melindungi manusia, dan menghadirkan manfaat bagi kehidupan.

 

Inovasi menjadi bernilai ketika mampu menghadirkan kemaslahatan.

 

Berhasil, tetapi Tetap Rendah Hati

 

Setelah penghalang yang kokoh itu selesai dibangun, Dzulqarnain tidak membanggakan dirinya. Ia tidak mengklaim keberhasilan tersebut semata-mata sebagai hasil kehebatannya.

 

Ia berkata:

 

“Ini adalah rahmat dari Tuhanku.”

 

Kalimat sederhana itu mengandung pelajaran besar tentang kerendahan hati.

 

Seorang pemimpin boleh memiliki kekuasaan besar. Seorang ilmuwan boleh memiliki pengetahuan tinggi. Seorang pengusaha boleh mencapai kesuksesan. Namun, semua itu tidak seharusnya melahirkan kesombongan.

 

Keberhasilan adalah nikmat sekaligus ujian.

 

Semua Kekuasaan Ada Batasnya

 

Sehebat apa pun penghalang yang dibangun Dzulqarnain, ia tetap menyadari bahwa bangunan tersebut tidak akan kekal selamanya. Ketika janji Allah datang, semuanya akan hancur.

 

Begitu pula dengan kehidupan manusia.

 

Tidak ada jabatan yang abadi. Tidak ada kekuasaan yang berlangsung selamanya. Tidak ada kekayaan yang dapat dibawa mati.

 

Karena itu, pertanyaan terpenting bukanlah seberapa tinggi jabatan yang pernah diraih, tetapi untuk apa kekuasaan itu digunakan ketika masih berada dalam genggaman.

 

Pesan untuk Pemimpin Hari Ini

 

Kisah Dzulqarnain bukan sekadar kisah masa lalu. Nilai-nilainya sangat relevan bagi pejabat, pengusaha, tokoh masyarakat, kepala keluarga, hingga siapa pun yang memiliki tanggung jawab terhadap orang lain.

 

Dari Dzulqarnain, manusia belajar bahwa pemimpin harus kuat tanpa menjadi zalim, tegas tanpa kehilangan keadilan, berilmu tanpa menjadi sombong, serta berkuasa tanpa melupakan rakyat yang membutuhkan perlindungan.

 

Jadilah pemimpin dengan semangat Dzulqarnain: kuat, adil, membantu rakyat, menggunakan ilmu untuk menghadirkan solusi, dan selalu ingat bahwa semua yang dimiliki hanyalah titipan Allah SWT.

 

Sebab pada akhirnya, punya kuasa berarti punya tanggung jawab, dan setiap amanah akan dimintai pertanggungjawaban.***(Sarifudin Sinaga)

Duta Nusantara News