Bedah Buku Etika Pejabat Publik, PKS Pekanbaru Perkuat Benteng Moral Aleg

Politik 14 Jul 2026 16:57 • 3 min read • 168 views • By admin

Share berita ini

Bedah Buku Etika Pejabat Publik, PKS Pekanbaru Perkuat Benteng Moral Aleg
Penulis buku “Etika dan Integritas Pejabat Publik”, Ustaz Muh Taufik HS, menyerahkan buku secara simbolis kepada pengurus MPD PKS Pekanbaru seusai Focus Group Discussion (FGD) bersama Fraksi PKS DPRD Kota Pekanbaru, Senin (13/7/2026)(Istimewa)

Duta Nusantara News, Pekanbaru – Majelis Pertimbangan Daerah (MPD) PKS Kota Pekanbaru menggelar Focus Group Discussion (FGD) bersama Fraksi PKS DPRD Kota Pekanbaru di Kantor Fraksi, Senin (13/7/2026).

 

Digelar sesaat sebelum Sidang Paripurna, forum strategis tersebut membedah buku “Etika dan Integritas Pejabat Publik” karya Ustaz Muh Taufik HS, S.Ag., CWC.

 

Bukan sekadar diskusi buku, forum ini menjadi ruang untuk memperkuat benteng moral anggota legislatif di tengah tantangan pragmatisme, nepotisme, dan berbagai godaan kekuasaan yang kerap menguji integritas pejabat publik.

 

 

Agenda dibuka Ketua Fraksi PKS DPRD Kota Pekanbaru Yasser Hamidi dan dilanjutkan sambutan Ketua MPD PKS Pekanbaru sekaligus Ketua DPRD Kota Pekanbaru, Isa Lahamid.

 

Turut hadir Sekretaris MPD Asep Heryana serta jajaran pengurus MPD, di antaranya Aliran, Syamsul, dan Devi.

 

FGD tersebut juga dihadiri anggota Fraksi PKS DPRD Kota Pekanbaru, yakni Isa Lahamid, Yasser Hamidi, Sabarudi, Hamdani, Rois, dan dr. Meiza.

 

Benteng Ruhiyah di Tengah Godaan Pragmatisme

 

Ketua MPD PKS Pekanbaru, Isa Lahamid, menegaskan perlunya terobosan untuk membangun hubungan yang semakin erat dan efektif antara pejabat publik, struktur partai, kader, dan masyarakat.

 

Menurutnya, anggota legislatif harus terus dikokohkan agar tidak mudah goyah menghadapi berbagai tantangan di lapangan.

 

“FGD ini menjadi ruang ruhiyah atau spiritual yang penting untuk membentengi para pejabat publik kita dari bahaya pragmatisme dan nepotisme. Kami ingin memastikan kinerja dewan dievaluasi secara berkala demi kemaslahatan masyarakat Pekanbaru,” ujar Isa Lahamid di sela-sela kegiatan.

 

Pesannya cukup terang: jabatan politik tidak boleh membuat seorang wakil rakyat semakin jauh dari nilai perjuangan. Kursi kekuasaan semestinya menjadi alat pengabdian, bukan ruang nyaman yang perlahan menjauhkan pejabat publik dari rakyat dan nilai-nilai yang mengantarkannya ke parlemen.

 

Kembali ke “Barak Perjuangan”

 

Dalam paparannya, penulis buku, Ustaz Muh Taufik HS, menekankan pentingnya anggota legislatif untuk kembali ke “Barak Perjuangan”.

 

Konsep tersebut menegaskan bahwa sesibuk apa pun agenda di parlemen, wakil rakyat dari PKS tetap harus melebur bersama kader melalui kegiatan Unit Pembinaan Anggota (UPA).

 

Pembinaan dinilai penting untuk menjaga orientasi perjuangan, memperkuat nilai spiritual, sekaligus menjadi pengingat bahwa jabatan publik bukanlah tujuan akhir.

 

Semangat “Barak Perjuangan” juga diterjemahkan melalui penguatan transparansi kinerja. Kader di tingkat struktur bawah didorong untuk terlibat aktif dalam mengawal agenda reses dan Pokok-Pokok Pikiran (Pokir) anggota dewan.

 

Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat rasa tanggung jawab bersama sekaligus memastikan aspirasi masyarakat tetap menjadi bagian penting dalam kerja-kerja politik dan kebijakan publik.

 

Forum ini pun melahirkan komitmen untuk menjaga moralitas, memperkuat kedekatan anggota legislatif dengan struktur partai dan konstituen, serta mendorong evaluasi kinerja secara berkala.

 

Kegiatan diakhiri dengan penyerahan buku “Etika dan Integritas Pejabat Publik” secara simbolis oleh Ustaz Muh Taufik HS kepada pengurus MPD PKS Pekanbaru.

 

Penyerahan tersebut menjadi simbol kolaborasi literasi dalam mengawal integritas pejabat publik. Sebab dalam politik, kemenangan di bilik suara hanyalah awal. Ujian sesungguhnya justru dimulai ketika kekuasaan sudah berada dalam genggaman.***(Sarifudin Sinaga)

Duta Nusantara News